Posted 2 years ago

Human Resources in Indonesia

Human resource problems are often associated with a number of employment opportunities available. Currently the amount of labor in Indonesia is quite a lot, that was not comparable with the number of jobs. This is quite worrying, consider the level of progress a country is also seen from how much the number of unemployed in the country concerned. The number of unemployment figures that a country has a bad condition in economic. I also noticed that the structure of labor education in Indonesia is dominated by those who passed only in the basic education level. While employment opportunities for university graduates is rather difficult to obtain. Beside the total labor force from college graduates is increasing from year to year. This shows that the quality of labor is also declining.

In addition to work issues, human resources also relate to the quality of human resources. I think the degree is not only the key to getting a proper job and in accordance with ability. But more than that, a variety of skills have to possessed by everyone who wants to get a job easily. This skill was associated with the skills to work together in teams, skills in communication, the ability to be a leader, the skills to solve problems, skills to manage any existing or new technology, and other skills that should be under our control

I hope that everyone in Indonesia realized the importance of a progress and change. Never think that just enough to graduate from the basic education level only. But struggle to obtain higher education and hone soft skills to advance themselves and the nation. Cost problem has also become the government’s attention by providing educational assistance to high school, and even scholarships for bachelor’s degree can be achieved. No more excuses not to advance the human resources that exist in Indonesia.

May our nation become a developed nation by quality human resources which are competitive to the global level.

 

Kindly Regards,

Lucky Anggina Manik

Posted 2 years ago

To Forgive is to Forget

I would be grateful, without that bad situation, I will always be the same as I was. Now I’m the “rich” person. Rich of experience, so that I can stand here right now. Then I can choose the best thing in my life.

Thanks God for the chance I got that person, so I can have a bright future.

Forgiving is allowing another person to be human for faults, mistakes, or misdeeds. Forgetting is putting this behind you, they are no longer brought up and no longer remain a barrier to your relationship.

Forgiving is letting another know that there is no grudge, hard feelings or animosity for any wrong doing. Forgetting is the lack of further discussion, with no ongoing negative references to the event.

Forgiving is letting another person know that you accept genuine the remorse and sorrow for actions or words that hurt or disappointed you. Forgetting is promising that this deed, whether of omission or commission, will not be brought up again.

When I forgive someone, I look more beautiful J  

Posted 2 years ago
Don’t worry… everyone has the same thing like you.
I’ve been losing keys for many times…
I’ve been losing ways to find meaning full of love…
As the time goes on, we would understand and can accept all the things happen around us.
It just about the time and find the way to get my own spirit..yes its all about times.
Times.
Just relax and go away…
Posted 2 years ago

Semakin banyak perempuan yang merokok!

Jumlah perempuan yang merokok terus bertambah. Padahal, rokok mengganggu kesehatan reproduksi perempuan. Kementerian Kesehatan mencatat, perokok perempuan sebesar 1,7 persen pada 1995 dan meningkat menjadi 5,06 persen pada 2007.

Demikian terungkap dalam seminar bertajuk ”Gender dan Rokok dengan Penekanan Pemasaran pada Perempuan” yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia, Kamis (27/5). Kegiatan itu dalam rangka menyambut Hari Tanpa Tembakau yang diperingati dunia setiap 31 Mei.

Salah seorang pembicara dari Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) Fuad Baradja mengatakan, industri rokok memasarkan rokok kepada perempuan dengan mencitrakan rokok dengan kelangsingan, modernitas, daya tarik seksual, dan produk lebih rendah risiko.

Praseno H, dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Jakarta, mengatakan, kadar nikotin dan tar yang rendah malah memicu perokok untuk merokok lebih banyak guna mendapatkan kadar nikotin lebih besar dan kenikmatan lebih.

Secara terpisah dalam jumpa pers terkait peringatan Hari Tanpa Tembakau, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, meningkatnya perokok perempuan akan menghambat tujuan pemerintah mencapai target tujuan pembangunan milenium (millenium development goals/MDG) untuk menurunkan angka kematian ibu. Selain itu, kebiasaan merokok pada perempuan juga memengaruhi kualitas generasi penerus yang dilahirkan perempuan.


 

Posted 2 years ago

Telur,Wortel dan Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. 

Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si Anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatu pun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”

Posted 3 years ago
Posted 3 years ago
What You Receive today is the BEST for your life :)
Posted 3 years ago